Selamat...

Selamat Natal 2008 & Tahun Baru 2009

Seperti membuka sebuah pintu
berharap di depan kita terbentang pemandangan indah
dengan hamparan rumput hijau
dengan keindahan bunga
dengan segarnya air yang bergemeriik pelan

Seperti membuka pintu
dan waktupun terentang maju
berharap semua keindahan tak semu
meski harus berjuang meraihnya

selamat berjuang
agar hidup menjadi indah

Desember 2008

Desember 2008

Tak terasa penghujung tahun tiba
ada banyak harapan, kenangan, juga cita
yang berharap bisa ditengok lagi
yang berharap bisa dikoreksi ulang
karena nyatanya tangan tak cukup dua
kaki tak cukup panjang
mulut tak cukup lebar
untuk sama-sama berbagi....

Masih Tetap Belajar







26 Oktober 2008



Pagi ini kami mmeperingati tahun ke delapan kelompok belajar dan bermain di bantaran Kali Brantas, Mergosono, Malang.



Masih sama dengan hari kemarin....



pagi ini kami mulai dengan sikat gigi dan cuci tangan bersama. Biar agak bersih dan wangi memulai hari.



Ada beragam lomba dan permainan bersama anak-anak; mewarna, menggambar, membuat surat, permainan juga acara mendongeng bersama Pak Azis.



Ramai juga, sekitar 40 anak berkumpul, beberapa Mas dan Mbak yang mendampingi, juga beberapa ibu dari warga kampung ikut menunggui dan nimbrung di sana.



Ah, dongeng hari ini tentang Yunus. jadi ingat....kita kan juga sering tak taat bila mendapatkan satu tugas. Mungkin karena capek atau dan jenuh. Bener kan?






Delapan tahun mungkinn baru bilangan di bawah sepuluh. Mungkin juga belum apa-apa untuk sebuah pendampingan anak-anak. Masih banyak 'PR' juga kesetiaan untuk belajar lebih keras menyayangi anak-anak itu.



Doakan ya.... agar delapan tahun bisa terlampaui menjadi sepuluh, puluhan yang lebih besar mungkin dengan karya yang lebih nyata. Terlebih bisa mewujudkan kasih itu sendiri.

Doakan

Delapan tahun dalam bilangan
telah terlewatkan....
Tolong bantu doakan
supaya saya bisa belajar setia
dengan anak-anak di pinggiran kali brantas
dengan anak-anak
yang membawa kecintaan tersendiri dalam hidup ini.


oktober 2008

Bucek


Bucek, anjing kesayanganku.
meski kaki kiri bagian belakangnya pincang, dia adalah anjing paling setia milikku.
sebenarnya, saat kelahirannya dulu dia terlahir bersama beberapa ekor saudaranya....tapi semua mati terendam air, saat terjadi banjir bandang tempo hari
dia sendiri tersangkut dalam got, yang kutemukan saat Bonny, induknya menangis melengking mengira dia telah hilang
makanya aku menamai dia bucek, karena tersangkut dalam kubangan dan becek.
wajahnya menyeramkan, meski demikian dia baik adanya
bisa mengerti apa yang kuomongkan
dan mengerti kegundahan hati
bucek....anjingku

Rumah


rumah....
sebuah impian juga kerinduan
tempat keterasingan juga kedamaian
tempat menyepi juga keramaian
tempat idaman sekaligus buangan (?)
rumah...
padanya ada segumpal harapan
bersua dengan lainnya
(Foto: rumah, hasil prakarya anak-anak bantaran Kali Brantas, Malang, 03/8/2008)

sikat Gigi



sikat gigi.....

Semua pasti sudah pernah sikat gigi. Hal remeh bukan? Sesuatu yang mudah.

Tapi, bagaimana semisal kita tak pernah mengalaminya? atau setidaknya jarang bersikat gigi. Pasti jadi sesuatu yang menyenangkan, membingungkan atau pula aneh? Apa perlunya sikat gigi?

Minggu pagi, antara waktu 09.00 dibilangan 1 Juni 2008

kami beramai-ramai menyikat gigi, bersama adik-adik di Mergosono.

Biarpun ada yang bilang sudah sikat gigi, kita semua menyikat gigi beramai-ramai. Menggosok gigi di tanah lapang....srek...srek....srok...srok....srek...srek....

menyenangkan, sambil sesekali bercanda dengan teman.

Hal sederhana bukan, tapi inilah awal pagi kami memulai hari...

menyikat gigi bersama dan kemudian bermain dan belajar bersama.

hmmmm...harum juga mulutku....segar sekali mulutmu.....

Memberi atau Diberi?

Aku sangat senang, tiap kali ada teman-teman yang berkunjung ke tempat dampingan adik-adikku di Mergosono.
Karena berarti masih ada yang mau peduli pada mereka.
Tapi yang jadi kesedihanku adalah...saban kali teman-temanku datang atau temannya temanku yang bawa teman-temannya (he he he bingung kan?) ke Mergosono, selalu membawa apa-apa buat adik-adik di sana.
Senang sih bisa melihat ada orang yang mau membantu mereka,
tapi yang bikin sedih adalah karena ada beberapa anak yang kemudian menjadi seperti selalu berpengharapan akan sesuatu tiap kali aku ke sana.
"Mbak, habis ini dikasih apa?"
duh, sedihnya batinku mendengar itu. kalau sudah begitu jadi malas sekali ketemu mereka.....
tapi mana bisa? kan aku sudah berkomitmen secara pribadi mendampingi mereka dengan segala keterbatasanku.
Tapi, sungguh, aku berterima kasih pada TUHAN
yang selalu memberikan kerinduan hatiku pada adik-adikku di mergosono,
sehingga aku tak jadi down.

ah, memang lebih senang bisa memberi......
meski terkadang kita juga harus bisa sesekali belajar menerima pemberian orang lain
dengan senyum dan penghargaan

Lelah

Aku tak tahu...
beberapa waktu ini tiba-tiba menjadi capai luar biasa
badan lemas dan tak bertenaga
meski sebenarnya ada banyak ide berkecamuk di rongga kepala
nyatanya jiwaku tak mendukungnya
dan
aku terjebak bergelung di atas peraduan
lelah.....

Abni


Setelah lama tak menemani anak-anakku bermain dan belajar (buat yang belum tahu....ayik ada pendampingan anak-anak di bantaran kali brantas, Mergosono, Malang, Jatim. ya, ini hampir jalan tahun ke-7 bersama mereka). tadi pagi aku menyempatkan main kesana.


Wah, rasanya rindu juga hampir 3 minggu tak sua mereka.

setelah acara potong kuku (seperti tiap awal jumpa)

kami pun ngobrol bersama. tentang sekolah....tentang keluarga...tentang bermain...tentang acara liburan.....


Tak lama datang Abni, dengan seorang adiknya (Abni 7 bersaudara, ia anak nomer 2).

Wajahnya nampak lelah sekali, meski tersenyum menyapaku.

Abni yang tahun ini masuk bangku SMP kelas 1 itu, kemudian duduk di sampingku dan bercerita.......

ibunya, yang buruh di sebuah pabrik rokok di kota Malang itu, baru saja kecelakaan.

Bahu kiri dan lengan tangan kanannya patah. Sudah 3 minggu ini, ibu Abni istirahat di rumah.


Ah, betapa kagetnya aku......

entah mengapa pula sejak 3 minggu aku tak datang ke mergosono hatiku jadi gelisah. ini ternyata penyebabnya.

Lantas segera aku singgah ke rumah Abni, menengok ibunya.

Rumah kecil, dengan dua bilik kecil (atau sekat gedheg).

Kami ngobrol di ruang tengah yang menyambung dapur kecil mereka.

Ada adik Abni lain, Norma, salah satu kembar yang cacat karena kakinya tak bisa jalan.

Kakak Abni sibuk memasak, Abni segera bergabung membantu kakaknya.

Aku mengobrol bersama ibunya, sesekali membantu Norma yang minta minum.


Ah, rasanya perih batinku melihat keluarga ini.

Nyeri.

Hari ini aku hanya bisa menemani ngobrol dan berdoa buat mereka.

Semoga besok ada yang bisa kulakukan........

ya,

agar tak sia-sia aku di samping mereka

meski kutahu aku juga tak begitu mampu


Semoga ada sahabat yang terketuk membaca ini.......

Pagi


Pagi...

hadirmu harapku

seperti senyum

yang berharap selalu ada

merentangkan waktu

menerbangkan angin

agar yang terbersit di hati tak hilang

seperti senyuman.....

yang selalu di kenang

yang selalu di simpan

Banjir Lamongan-3



Mereka masih memiliki harapan bukan untuk masa depannya?

Banjir Lamongan-2



Menyeberangi Sungai untuk mencapai kampung halaman

Banjir Lamongan-1


Januari

Januari
awal tahun juga awal harapan baru
saya dilahirkan di bulan ini
menyenangkan sekaligus melelahkan
kadang orang tak ingat dengan ulang tahun saya...
karena masih sibuk dengan urusan Natal atau kecapian usai pesta tahun baru
tapi apalah arti sebuah ulang tahun, pikir saya
akhirnya terlewat begitu saja....

Januari
meski demikian jadi awal pengharapan saya
bahwa saya harus lebih memiliki arti bagi banyak orang
dan banyak pertanyaan yang masih menyeruak
apakah saya sudah menjadi saluran Berkat bagi-NYA?
 

Copyright © 2009 ayik-prue Designed by csstemplatesmarket

Converted to Blogger by BloggerThemes.Net